Oleh : Lukmanulhakim
MANUSIA perkembangan berpengaruh pada perkembangan tahap berikutnya, salah satunya adalah tahap remaja. Tahap remaja adalah masa pancaroba atau peralihan
dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada tahapan ini digambarkan sebagai sosok yang labil dan rentan terhadap setiap perubahan yang ditandai dengan perilaku yang cenderung ingin coba-coba, bertindak atas dasar kemauan sendiri dan cenderung memberontak pada aturan yang sudah mapan. Pada masa ini merupakan masa yang rentan terhadap setiap perubahan dan berpengaruh pada perilakunya.
Kepribadian remaja yang dinilai labil itulah yang sering dijadikan sasaran “Perang Peradaban” oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain dengan tujuan untuk menghancurkan kita. Perang peradaban terhadap remaja dilakukan dengan berbagai cara dan tujuan untuk ; (1) menghancurkan idealisme remaja dan menguatnya
pragmatisme di kalangan remaja; (2) mengembangkan dekadensi moral; (3) melunturkan akhlak dan mental.
Strategi “Perang Peradaban” untuk menghancurkan remaja dilakukan dengan melakukan penetrasi dan infiltasi budaya, strategi kebijakan pendidikan yang ditetapkan pemerintah dan menjadikan Indonesia peredaran narkoba. Sarana yang paling efektif untuk mencapai tujuan mempercepat proses “Perang Peradaban” adalah dengan memanfaatkan teknologi komunikasi berupa televisi dan internet.
Sistem pendidikan nasional yang berorientasi fisik dan banyak mengandalkan otak ketimbang keseimbangan spiritual, menumbuhkan individu yang menggandrungi
hal-hal bersifat intelegensi yang dapat mengangkat gengsinya dari pada yang bersifat spiritual. Sistem pendidikan yang berorientasi kapitalistik seperti itu menghasilkan tumbuhnya biaya konsumerisme dan hedonisme, padahal budaya modern secara spiritual tak berarti harus kehilangan perasaan yang fundamental dari nilai-nilai kehidupan. Hedonisme dan budaya konsumerisme yang melanda bangsa Indonesia mendorong munculnya mental menerabas yaitu keinginan mencapai tujuan dengan berbagai cara pintas.
Dilain pihak para orang tua, pendidik dan tokoh masyarakat sering terkesima melihat kenyataan arus yang ditiupkan oleh orang-orang yang berdalih sebagai seni designer hiburan dan sutradara film yang gersang dari tuntutan pendidikan dan moral. Fenomena informasi dan pendidikan seperti itu menakutkan berbagai pihak seperti orang tua, guru dan tokoh spiritual di masyarakat. Suasana seperti ini sangat tampak jelas, terasa dan menghimpit upaya pendidikan yang dilaksanakan secara wajar, teratur dan terarah. Inilah yang merupakan suatu gejala serangan dan jebakan atau
jeratan “Perang Peradaban” di bidang pendidikan dalam hiruk pikuk masalah narkoba, film berindikasi porno dan peracunan mental.
Fenomena peradaban yang sedang kita hadapi ini didukung dengan berkembangnya globalisasi informasi dan teknologi komunikasi. Globalisasi informasi dan teknologi komunikasi (utamanya internet) yang tidak dapat ditangkal oleh suatu negara, memberikan peluang bagi remaja untuk mengakses informasi tanpa batas.
Akses informasi tanpa batas ini selain memberikan kemanfaatan juga memberikan pengaruh negatif pada remaja. Melalui kemanfaatan juga menberikan pengaruh
negatif pada remaja. Melaui serangan ini pola pikir remaja yang masih ”lugu” menjadi ”gaul” akan budaya asing yang merusak, hal ini terkadang di sepelekan
oleh pihak orang tua maupun pendidik.
Seperti telah diuraikan di atas, bahwa prilaku individu merupakan hasil proses belajar sosial. Tindakan individu bukan semata-mata merupakan dorongan psikologis tetapi lebih disebabkan oleh faktor sosial (Doyle P Jhonson, 1986). Hal ini dilukiska pada
individu bersama dengan orang-rang lain adalah bagian dari suatu kelompok dan akibat kesadarannya itu individu memiliki tanggungjawab moral untuk bertindak
sesuai dengan tuntutan kelompok itu sebagai proses dan tingkat sosialisasi nilai Pada saat ini pemerintah dalam rangka menumbuhkan kesadaran remaja Indonesia melalui serangkaian proses sosialisasi di sekolah baik secara formal disekolah maupun informal berupa kegiatan seremonial dirasakan sangat tidak maksimal. Pendidikan keagamaan dan budi pekerti di sekolah diberikan sangat minim dan pelajaran di sekolah lebih ditekankan pada pelajaran yang dianggap dapat mengahasilkan peserta didik yang cerdas semata. Berbagai kegiatan penting yang dapat menumbuhkan kesadaran kolektif remaja seperti pengkajian maupun pengajian agama, atau dapat
dilakukan pembinaan lembaga-lembaga maupun organisasi di masyarakat tidak lagi dilaksanakan secara wajib bagi remaja.
Apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan kesadaran remaja agar memiliki mental, moral dan akhlak adalah melalui pelaksanaan sosialisasi nilai keagamaan dan pendidikan budi pekerti baik secara formal di sekolah maupun non formal melalui pengkajian maupun pengajian agama atau dapat dilakukan pada pembinaan lembaga-lembaga maupun organisasi kemasyarakatan. Cara-cara ini ini dipandang dapat
digunakan menjadi filter terhadap masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai keagamaan dan budi pekerti remaja. Dengan kata lain untuk menghadapi
“Perang Peradaban”, kita perlu mempersenjatai remaja dengan kesadaran kolektif yang tinggi melalui sosialisasi nilai keagamaan dan budi pekerti baik secara formal maupun informal.
Berdasarkan pada uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa remaja secara alami memiliki kelemahan dalam proses perkembangan kepribadiannya. Kelemahan-kelemahan ini dapat dimanfaatkan oleh suatu negara untuk menghancurkan negara lain melalui para remajanya. Dalam kehidupan bermasyarakat, remaja memiliki peran penting karena remaja merupakan penerus generasi dan gambaran kondisi masyarakat. Kehancuran para remaja dalam suatu masyarakat akan berdampak pada
perkembangan masyarakat itu sendiri.
Senin, 13 April 2009
REMAJA MENGHADAPI “PERANG PERADABAN”
Jumat, 03 April 2009
KEMANAKAH ARAH PERJUANGAN PEMUDA KITA SAAT INI?
Melihat eksistensi dan peran pemuda saat ini tentu kita akan bertanya-tanya, apa yang diperjuangkan pemuda saat ini? Pertanyaan itu bukanlah hal yang tidak mendasar, karena memang nyatanya pemuda saat ini diselimuti kebimbingan terhadap arah perjuangan yang diinginkan. Secara sadar maupun tidak pemuda saat ini dikondisikan oleh zaman dan krisis kemanusian global. Krisis kemanusiaan global saat ini menempatkan pemuda sebagai agen atau subjek perubahan namun sebagai objek perubahan.
Potensi pemuda sebagai segmentasi terbesar dalam masyarakat dan perkembangan psikologi yang masih bertransisi menjadikannya sebagai target pasar dalam mengembangan perusaan-perusaan, pemenuhan massa dan objek kekuasaan. Di samping itu realitas zaman yang mengikis idealisme menambah kebutaan terhadap arah perjuanngan pemuda sendiri maka tidak salah ketika Bung Karno mengingatkan pemuda agar mewaspadai budaya ”Ngak, Ngek, Ngok” sebagai musuh bangsa. Tentu sangat kontradiktif ketika melihat, membaca serta mendengar semangat perjuangan yang dilakukan oleh bapak dan ibu yang membangun bangsa ini. Mungkin kondisi yang dijalani pada masa lalu berbeda dengan sekarang namun perlu disadari bahwa arah perjuangan mereka jelas. Dan sekarang?Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing sebagai pemuda.
Mencari solusi permasalahan pemuda saat ini tentu sangatlah kompleks. Dimanakah harus memulainya? Bagaimanakan memulainya, dan Siapa yang harus memulainya? Pertanyaan dasar ini harus dijawab oleh kita semua. Persoalan pemuda saat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemuda itu sendiri namun menjadi tanggung jawab kita semua.
Secara sederhana memulai perubahan dapat melalui dua pendekatan, yaitu paradigma dan sistem. Kedua pendekatan tersebut sama-sama penting dan harus berjalan beriringan.
Paradigma menjadi target dalam merubah suatu bangsa karena ”paradigma merupakan paradogma” (Nataatmaja, 1998), dan ketika paradigma merupakan paradogma maka akan menjadi pemikiran yang diyakini. Para pakar sepakat bahwa ketika pemikiran terbentuk maka kecendrungan akan menjadi budaya dan karakter bangsa semakin besar. Pendekatan inilah yang menjadi target oleh bangsa-bangsa lain dalam merubah bangsa ini. Paradigma pemuda Indonesia diombang-ambingkan, dikotori dan diracuni dengan budaya-budaya asing yang tidak jelas melalui berbagai cara. Untuk menjaga karakter dan budaya pada diri pemuda bangsa ini juga dilakukan dengan membangun paradigmanya. Bimbingan orang tua, pergaulan yang baik, penanaman nilai-nilai dasar keagamaan diantaranya menjadi bagian penting dalam menjaga karakter dan budaya bangsa.
Di samping itu pendekatan sistem yang dibangun dalam pemerintahan di bangsa ini juga menjadi bagian penting. Sistem harus menjadi tameng pembentukan karakter dan budaya pemuda dari krisis kemanusia yang berasal dari bangsa-bangsa asing. Pemerintah harus menjadi garda terdepan dengan mengatur regulasi peraturan-peraturan yang berpihak kepada bangsa ini.
Kedua pendekatan di atas akan mendukung pemuda dalam menentukan arah perjuanngannya sehingga pemuda dapat fokus dalam menentukan identitas dirinya. Berbicara tentang arah perjuangan, haruslah mendasar dan memahami apa yang diperjuangkan. Pemuda harus sadar bahwa proses berjihad adalah tidak dibatasi ruang dan waktu. Dulu, sekarang, akan datang, di utara, timur, barat dan selatan dan kapan saja maupun dimana saja harus menanamkan nilai perjuangan. Karakter dan budaya bangsa sebagai negara yang berdaulat menjadi materi dalam perjuangan. Dan semangat perjuangan harus didasarkan atas kerelaan hati dan keridhaan ilahi bahwa perjuangan mempertahannkan bangsa menjadi bagian dari tugas keberagamaan.
Untuk melakukan itu perjuangan pemuda harus mengambil perjuangan pemuda harus menjadi bagian penting dalam bangsa ini dengan menyejajarkan diri dalam semua sistem dan potensi yang ada. Pemuda harus menjadi key factor dalam sistem yang digunakan. Dengan masuk ke dalam sistem, arah perjuangan akan lebih mudah terkondisikan. Disisi lain pemuda secara sadar harus berusaha mengembangkan diri agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Caranya, dengan membangun pemahaman bahwa satu orang pemuda adalah bagian dari bangsa ini, sehingga semua yang dilakukan akan berpengaruh pada bangsa ini.
Mengakhiri opini ini penulis hanya memberikan suatu pandangan bahwa untuk merubah suatu bangsa, semua masyarakat dalam bangsa itu harus marasa menjadi bagian dari bangsanya. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknnya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Kamis, 02 April 2009
Antara Agama dan Spiritual
Agama
Kata agama aslinya berasal dari bahasa sansekerta. Secara etimologi merupakan gabungan dari dua kata yaitu a artinya tidak dan gama artinya kacau, jadi agama adalah tidak kacau. Di Indonesia yang disebut agama sama dengan religion (Bhs. Inggris) atau din (Bhs. Arab).
Membahas masalah term agama ini dari berbagai bahasa akan membuat berbeda pengertiannya, walaupun intinya bisa jadi sama. Religion (English) berasal dari kata religio (latin) yang artinya mengikat dengan kencang, artinya yang lain adalah membaca kembali atau membaca berulang-ulang. Agama adalah seperangkat atauran dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal pada pengikutnya dan pengikutnya wajib melaksanakan aturan tersebut.
Agama dalam bahasa arab disebut "Din". artinya ketaatan dan balasan. Secara teknis didefinisakan keimanan kepada pencipta manusia dan alam semesta serta kepada hukum-hukum praktis yang sesuai dengan keimanan.
Agama Islam berawal dari arab, namun Islam memiliki definisi tersendiri terhadap agama. Dalam mendefinisikan agama menurut Islam penulis sependapat dengan definisi yang dikemukakan oleh K.H. Moenawar Cholil dalam Ensiklopedi Al-Qur’an (Rahardjo, 1996). Pada buku “Definisi dan Sendi Agama” ia mengatakan bahwa :
Ad-din dalam Al-Qur’an mengandung lebih dari 10 arti. Kata ad-dien adalah bentuk masdar dari kata dana, yadin-u. menurut segi bahasanya, kata itu mengandung banyak arti, antara lain : (1) cara atau adat kebiasaan, (2) peraturan, (3) undang-undang, (4) taat atau patuh, (5) menunggalkan ketuhanan, (6) pembalasan, (7) perhitungan, (8) hari kiamat, (9)nasihat, dan (10) agama.
Pemahaman Islam terhadap definisi agama berbeda dengan ummat beragama di luar Islam, sebagai contoh dalam Q.S al-Kafirun :6 yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Dalam ayat lain juga dijelaskan ad-din sebagai agama pada Q.S al-Maun:1 yang artinya “ Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?”
Dua ayat di atas menyajikan dimensi ad-din yang benar, yaitu agama yang dibawa Muhammad saw. Dimensi pertama adalah dimensi ibadah dalam arti sempit yang lazim disebut ibadah mahdkah atau dimensi hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam dimensi ini, seorang muslim adalah seorang yang bukan saja percaya tentang adanya Tuhan, tetapi juga berserah diri dan mengarahkan pengabdiannya hanya kepada Allah Swt. Sebenarnya, haltersebut mengandung arti yaitu, mengikuti petunjuk dan jalan yang diberikan oleh Allah Swy, lewat wahyu-Nya yang mengandung dimensi hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Tetapi untuk lebih menjelaskan adanya dua dimensi itu, maka diperlukan adanya pembedaan pengertian antara ibadah dalam arti sempit dan ibadah dalam arti luas, yang mencakup dua dimensi itu.
Agama dalam dimensi kedua dicerminkan oleh keseluruhan
Spiritual
Cara pandang terhadap spiritual juga banyak perbedaan. Era pencarian spiritualitas dalam berbagai agama, tampaknya kini telah menjadi tern di seluruh dunia. Upaya untuk menemukan makna kehidupan dan keberadaan tuhan telah membawamanusia modern kepada pencarian spiritual yang tak kunjung selesai.
Spiritual berasal dari Bahasa Inggris Spiritualis, yang mengadopsi dari Bahasa Latin Spiritualis, asal kata : Spiritus artinya roh. Jadi secara leksikal spiritual adalah rohani.
Dipandang dari sudut agama spiritualisme itu mengacu kepada penjelmaan roh. Spiritualisme adalah suatu pandangan bahwa realitas puncak yang mendasari semua realitas adalah Ruh/Roh.
Perbedaan Agama dan Spiritual
Dari definisi-definisi diatas masih belum terlihat perbedaan antara agama dan spiritualitas, perlu perhatian yang mendalam untuk beberapa aspek. Kesulitan membedakan biasanya terjadi apabila kita tidak bisa memilah mana yang bersifat 'aspek bumi' dan mana yang bersifat 'langit' aspek spiritualitas pada agamanya. Kerancuan antara agama dengan spiritualitas adalah kesamaan hal yang dibahas seperti Tuhan, Jiwa, surga, neraka, tetapi tidak melihat sisi birokrasi dan ada sistem keorganisasian dalam beragama. Biasanya orang yang beranggapan bahwa agama adalah spiritualitas mengacu pada sisi tolerannya agama. Kenyataanya di dalam agama, selain memiliki sisi toleran ada juga sisi ekstrim, yang tidak mau tahu terhadap sistem keorganisasian dalam beragama.
Contohnya sisi ekstrim saja di dalam Islam adalah Jihad Islam, di dalam agama Kristen juga ada, contoh yang bersifat spiritual, di dalam agama Hindu yang memiliki banyak kitab suci, Kitab Wedha adalah kitab yang memfokuskan pada spritualitas. Boleh jadi pada Agama Islam contoh nya adalah ajaran Tasawuf.
Lalu, apa yang membedakan antara agama dengan spritualitas? Ada beberapa aspek yang berbeda di dalamnya, pada agama (A) bersifat Institusional, pada spiritualitas (S) bersifat universal, (A) mengacu pada eksternal (eksoteris) sebaliknya (S) Internal (essoteris), pada agama (A) memfokuskan ke ritual, sebaliknya spirtual (S) spontanitas, (A)untuk kalangan umum sebaliknya (S) khusus atau privat, (A) fokus pada tabiat/kelakuan sebaliknya (S) fokus pada cinta kasih, terakhir pada Agama (A) pengetahuan doktrin unik, sebaliknya spiritual (S) bisa bercampur.
Lahirnya Spiritualitas
Salah satu trend ekspresif zaman post modern adalah ditandainya pergolakan sosial yang cepat. Namun, kita tak sekadar bersaksi atas progresivitas pergolakan sosial, kecanggihan teknologi post industri abad ini. Di sisi lain, kita dihadapkan seribu krisis kemanusiaan: mulai dari krisis diri, depresi, stres, keretakan institusi keluarga, sampai beragam penyakit psikologis lainnya. Justru, jenis penyakit yang mengguncang diri kita di tengah situasi krisis dewasa ini, tak lain adalah hadirnya perasaan ketidaknyamanan psikologis.
Di Barat, khususnya Amerika Utara, situasi krisis serupa, justru diiringi meningkatnya ketidakpercayaan pada institusi agama formal (a growing distrust of organized religion). Barangkali, ekstrimnya seperti dislogankan futurolog John Naisbitt bersama istrinya, Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000, Spirituality Yes, Organized Religion No!. Inilah model generasi baru yang gandrung pada Spiritualitas “Dunia Baru”.
Fenomena keagamaan inilah yang menarik dipotret. Apa itu gerakan “Dunia Baru” berikut ciri khasnya? Bagaimana model praktik spiritual “Dunia Baru” di tengah eksistensi agama-agama besar selama ini? Benarkah spiritualitas “Dunia Baru” tampil sebagai alternatif keberagaman dewasa ini?
Ada semacam arus besar kebangkitan spiritual yang melanda generasi baru dewasa ini, terutama di Amerika, Inggris, Jerman, Italia, Selandia Baru, dan seterusnya. Namun, benang merahnya hampir sama: memenuhi hasrat spiritual yang mendamaikan hati.Dunia Baru”.
Spiritualitas "Dunia Baru"
Ekspansi “Dunia Baru” menjadi populer dan fenomenal pada dasawarsa 1970-an sebagai protes keras atas kegagalan proyek Kristen dan sekulerisme dalam menyajikan wawasan spiritual dan petunjuk etis menatap masa depan.
Pertama, di lingkungan gereja Kristen, misalnya, kita sulit menghapus ingatan masa lalu saat Gereja ”tidak ada keselamatan di luar Gereja”. Bukankah ini cermin watak Gereja yang sarat claim of salvation? Bukankah claim of salvation tidak saja mengakibatkan sikap menutup diri terhadap kebenaran agama lain, tetapi juga berimplikasi serius terhadap konflik atas nama agama dan Tuhan.
Kedua, protes penganut paham “Dunia Baru” atas hilangnya kesadaran etis untuk menatap masa depan. Sebagai alternatif dari protesnya terhadap kegagalan gereja Kristen dan sekulerisme dalam menyajikan wawasan spiritual dan petunjuk etis menatap masa depan, maka banyak orang menoleh pada spiritualitas baru lintas agama. Kita tahu, betapa begitu kuatnya penganut paham ini berpegang pada prinsip spirituality: the heart of religion.
Manusia Modern dan Spiritualitas
Merupakan hal yang tak terbantahkan, bahwa sains dengan penemuan-penemuan spektakulernya membawa berkah bagi kehidupan manusia berupa kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Saat ini kita dapat merasakan bahwa hampir semua pekerjaan dapat dikerjakan oleh mesin mulai dari yang paling berat, rumit dan sulit hingga yang paling sederhana, gampang dan mudah. Dalam tiap ritme kehidupan, kita selalu dikelilingi oleh mesin, seolah kita tidak bisa hidup tanpanya sebagaimana sebagai makhluk seorang makhluk sosial, kita tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya di sekeliling. Demikian adanya bahwa mesin memudahkan, membuai dan memanjakan kehidupan kita. Tetapi sekali lagi kita mesti ingat bahwa modernitas adalah produk ambigu manusia yang menghadirkan dua sisi berhadap-hadapan.
Di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari, adalah terpinggirkannya manusia dari keberadaan manusia itu sendiri. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya, terpinggirkan. Makanya, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan.
Dalam realitas sosial dapat kita temukan betapa banyak hari ini penyakit-penyakit sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan, pengkonsumsian obat-obat terlarang, minuman keras, aborsi, perilaku sadisme dan perilaku-perilaku kriminal lainnya yang kesemuanya menghiasi wajah gelap modernitas. Itulah di antara beberapa dampak yang terdapat dalam modernitas itu sendiri dimana kesemuanya ternyata sangat potensial untuk memberangus sisi-sisi eksistensial kemanusiaan. Sebagai kesimpulan sementara dapat dikatakan, bahwa kemajuan secara kuantitatif material yang dicapai oleh modernitas, tidak diiringi dengan kemajuan kualitatif. Modernitas dengan sederet dampak tersebut sedikit banyak telah memberikan keputusasaan beberapa sisi sejati dari manusia pemujanya. Hal inilah yang selanjutnya menyebabkan manusia modern salah orientasi dalam memaknai hakikat hidup yang ia jalani.
Relevansi Spiritualitas Agama
Modernitas senyatanya tidak hanya menghadirkan dampak positif, tapi juga dampak negatif. Terhadap dampak negatif ini, pertanyaan kita selanjutnya adalah apa yang seyogyanya kita lakukan, sementara modernitas dengan niscaya terus bergerak dengan tanpa memperdulikan apakah di balik gerakannya terdapat bias negatif. Modernitas yang merupakan kristalisasi budi daya manusia adalah keharusan sejarah yang tak terbantahkan, dengan demikian satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menjadi partisipan aktif dalam arus perubahan modernitas, sekaligus membuat proteksi dari akses negatif yang akan dimunculkan. John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam “Megatrends 2000“ mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, maka agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan spiritualitas manusia modern. Dalam tesisnya ia mengatakan bahwa era milenium seperti sekarang merupakan era kebangkitan agama dan nilai-nilai esoteric. Bagi manusia modern, akses-akses negatif yang ditimbulkan oleh modernisasi akan mampu di proteksi oleh kearifan esoteric sebuah relegiusitas. Tetapi yang menarik dari fenomena ini adalah bahwa kecendrungan sikap dan pilihan beragama kaum modernis adalah model beragama yang mengedepankan spirit relegiusitas ketimbang formalitas agama konvensional. Slogan mereka yang cukup terkenal itu adalah “Spirituality yes, organized relegion no” (Naisbitt,1990). Hal ini jika kita simak secara mendalam lebih disebabkan oleh adanya pengaruh dari karakteristik modernisasi yang mengdepankan rasio dan daya kritis terhadap sebuah kebenaran.
Terdapat alasan ontologis-teologis mengapa sisi spiritualitas tetap menjadi kebutuhan perenial manusia; seprimitif dan semoderen apapun dia. Ia menganalogikan kebutuhan perenial itu dengan memetaforakan seperti sebuah cerita film (Yasraf Amir Pilliang, 2004). Bila di dalam segala sesuatu telah diketahui sebelumnya, artinya tidak ada lagi misteri dan pertanyaan yang perlu dijawab, enigma yang harus diselesaikan dan lain-lain, maka tidak ada makna baru yang penting dicari karena semuanya telah terbuka dan tersibak. Apa yang menarik dari sebuah film tersebut untuk kita tonton hingga menghabiskan waktu berjam-jam, toh kita telah tahu semuanya, seperti apa ending dari ceritanya. Film baru akan menarik manakala ia menghadirkan rasa penasaran, karena ia menyimpan misteri, pertanyaan dan enigma sehingga ia akan menghadirkan pengalaman baru bagi penontonnnya.
Demikian pula kehidupan ini, manakala saat kita berada di atas dunia semuanya telah menjadi nyata, semua membentangkan realitas sebenarnya, tidak ada lagi ruang suci tak tersentuh yang kemudian menjadikan kita tidak lagi mempunyai pekerjaan untuk memimpikan, mengilusikan, menghayalkan, dan menafsirkan, sesungguhnya tidak ada lagi yang namanya kehidupan di dunia. Dunia akan hidup manakala masih ada realitas tak tersentuh yang kemudian menghadirkan energi bagi manusia untuk berikhtiar mengungkapnya baik melalui penalaran, perenungan, pengembaraan jiwa dan lain-lain. Yang jelas bahwa Realitas Tak Tersentuh ini sebagai sesuatu yang berada di luar kekuasaan manusia, di luar pengalaman manusia dan mungkin di luar kemampuan akal manusia pula.
Dalam konteks ini, asumsi awal yang dapat kita berikan bahwa semodern apapun sebuah komunitas, agama tetap akan eksis, dibutuhkan dan tetap dapat menjadi tawaran solutif terhadap penyakit sebagai darivasi dari peradaban yang dimunculkan. Agama diperlukan guna menjelaskan makna dan tujuan hidup manusia. Agamalah yang mengisi sisi spiritual manusia yang tidak mungkin dipenuhi oleh rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Bahkan menurut William James, agama akan selalu ada selagi manusia memiliki rasa cemas.
Namun demikian tidak semua agama dapat menjawab persoalan kemanusiaan. Hanya agama yang menjamin pemenuhan spritualitas dan tidak bertentangan dengan sains dan teknologilah yang dapat bertahan. Selain itu pendekatan beragama yang cenderung ekslusif juga tidaklah cocok untuk ditawarkan pada hari ini dan masa yang akan datang karena pada masyarakat yang terbuka semacam ini agama semacam itu cenderung menyulut konflik. Agama masa depan yang akan muncul adalah agama yang menekankan dan menghargai persamaan nilai-nilai luhur pada setiap agama.
PEMUDA DI PERSIMPANGAN JALAN
PEMUDA DI PERSIMPANGAN JALAN
Oleh : Lukmanulhakim
Pemuda merupakan aspek penting dalam perubahan sosial di samping sebagai lapisan sosial dalam masyarakat. Lebih jauh dari itu, pemuda merupakan konsep yang menerobos definisi pelapis sosial tersebut, terutama terkait dengan konsepsi nilai-nilai. Rasulullah saw. bersabda , ”Jagalah masa mudamu sebelum masa tuamu... ” (HR. Hakim), mengingatkan pemuda untuk menjaga masanya, dalam menghadapi kehidupan di masa depan.
Perlu disadari bahwa pemuda muda merupakan usia dimana seseorang manusia melalui fase peralihan dari usia anak-anak ke usia dewasa. Erickson-tokoh teori perkembangan- menjelaskan bahawa di antara usia ini manusia-pemuda- mulai tumbuh perasaan diri bahwa dirinya memasuki peranan yang berarti dalam masayarakat apakah peranan itu bersifat menyesuaikan diri atau memperbaharui. Proses pencarian identitas inilah yang sangat perlu untuk diperhatikan.
Menyikapi fenomena dunia yang semakin maju dan krisi multidimensi yang semakin tak menentu, memberikan pemuda referensi untuk melihat dunia dengan paradigma yang global. Bebicara sosok pemuda saat ini, memang kerap identik dengan membicarakan nilai-nilai yang dilekatkan didadanya. Sosok pemuda sering dikaitkan dengan peran sosial (politik) yang dilakukannya. Hal ini dapat dipahami, mengingat sosok pemuda telah tercitra sebagai sosok yang melekat dengan objek pelaku perubahan sosial.
Realitas kepemudaan kita di dalam spektrum yang lebih luas merupakan refleksi yang muncul, tatkala memotret realitas kepemudaan kita dewasa ini. Pemuda kita dihadapkan pada persimpangan jalan terjal untuk mencari makna kehidupan yang dilaluinya. Persimpangan jalan ini sering kita sebut Idealisme dan Pragmatisme.
Idealisme dan pragmatisme merupakan paham yang sekarang sedang berkembang dalam pemikiran pemuda-pemuda kita. Keduanya seakan sulit untuk disatukan.
Secara populer Idealisme sejenis pemimpi atau seseorang yang berpegang pada prinsip-prinsip yang ideal. Kattsoff (1992) Menyatakan bahwa ”seorang yang tidak psikis karena pandangannya tertuju pada hal-hal atau keadaan-keadaan yang pada hakekatnya sempurna. Sosok pemuda yang idealis, yang mencoba merealisasikan idealismenya itu ke konteks realitas. Pemuda memainkan perannya yang nyata di tengah-tengah publik luas. Sosok-sosok pemuda seperti ini, tentu tergolong sebagai sosok-sosok yang dinanti-nantikan kehadirannya saat ini. Sedangkan Pragmatisme merupakan paham yang berpegang teguh pada praktek. Hadi (1994) Menyatakan bahwa ” kebenaran adalah apa yang membawakan hasil ”. Secara sederhana paham pragmatis juga mendasarkan pemikirannya pada azas manfaat. Sosok pemuda yang pragmatis cendrung melihat suatu masalah dan berbuat melihat apakah bermanfaat bagi dirinya atau tidak.
Kedua paham diatas didefinisikan oleh pemuda menjadi suatu pemikiran yang berkembang saat ini. Dalam tataran pelaksanaan terhadap konsep nilai-nilai dari ke dua paham di atas terjadi pertentangan yang kontradiktif. Disatu sisi secara obyektif dibalik idealisme atas sosok pemuda, terdapat banyak hal yang masih jauh dari harapan. Ada kalanya pemuda di puja-puja sebagai pahlawan, tetapi di sisi yang lain, pemuda dicela dan dinafikan. Dalam hal ini perlu dipahami, pemuda memang tidak bermakna tunggal, melainkan jamak (plural).
Masalah ini menjadi sebuah persoalan yang penting untuk dicari jawabannya. Terkadang paradigma kita yang subjektif terhadap satu diataranya menjaidkan mindset kita termarjinalkan. Namun jika kita dapat sedikit membuka celah perbedaan dengan dialog, bisa saja menjadi suatu pemahaman yang komplementer untuk menyempurnakan suatu pemikiran.
Secara sederhana kita dapat merasakan bahwa berpikir tentang suatu yang ideal itu penting, sebagai seorang pemimpi, namun akan lebih sempurna jika pemikiran yang ideal dapat menjadi landasan dalam berprilaku maupun berpikir. Misalnya, secara pragmatis seorang mahasiswa ingin mendapatkan hasil yang maksilal dalam ujian semester. Ia bisa saja menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Tapi pikiran idealis menghendakinya untuk berprilaku jujur dalam ujian tersebut.
Menutup opini ini penulis mencoba untuk mengajak semua pemuda untuk kita sama-sama mengkaji kembali pemahaman yang berkembang saat ini agar tidak terjebak di persimpangan jalan sehingga salah&stagnan karena takut dalam melangkah. Kita perlu sadar bahwa setiap individu mempunyai misi hidup yang berbeda. Karena termotifasi oleh misi itulah maka kita sering mengesampingkan nilai-nilai moral yang menjadi prinsip hidup. Namun, kita juga harus sadar bahwa nilai-nilai moral dalam kehidupan yang ideal sangat penting sebagai kontrol sosial dalam bermasyarakat.
